Jakarta – Menemukan bakat unggul dalam dunia pencak silat tak hanya soal keterampilan fisik semata. Tulus Priyadi, pelatih seni tunggal, ganda, dan beregu dari Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), berbagi pengalamannya tentang proses panjang mencetak pesilat berprestasi. Dalam sesi materi Training of Trainer Nasional PERSINAS ASAD yang digelar pada 17-18 Oktober 2024 di Padepokan PB PERSINAS ASAD, Pondok Gede, Jakarta, Tulus menekankan bahwa pencarian talenta pencak silat harus dilakukan secara terencana dan sistematis.
Menurut Tulus, langkah awal dimulai dengan menemukan pesilat yang berbakat atau memiliki talenta alami dalam pencak silat. Setelahnya, mereka harus dibekali dengan teknik dasar yang benar. “Menguasai teknik dasar adalah kunci agar pesilat lebih mudah menyerap materi jurus wajib,” ungkapnya. Namun, teknik semata tidak cukup. Stamina, kelenturan, serta kesiapan emosional juga memegang peranan penting dalam membentuk pesilat yang tangguh. Selain itu, aspek birama, birasa, dan biraga atau ritme, rasa, dan sikap dalam gerak menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Dengan teknik pelatihan yang tepat, kata Tulus, mencetak pesilat berprestasi bukanlah hal yang mustahil. Namun, hal ini juga membutuhkan niat yang tulus dan ikhlas dari pelatih itu sendiri. “Jika pelatih memiliki niat yang murni dan benar, keberhasilan pesilat akan menjadi cerminan dari upaya dan keseriusan yang telah dilakukan,” tuturnya.
Tantangan terbesar, menurut Tulus, adalah kesabaran. Pelatih harus bisa menyesuaikan pendekatan dengan tipe masing-masing pesilat. “Setiap pesilat memiliki karakter yang berbeda, sehingga pelatih perlu memahami aspek kejiwaan mereka. Pesilat berprestasi dilihat dari hasil akhirnya, dan pelatih sering kali baru dikenang setelah pesilatnya meraih prestasi,” katanya. Namun, Tulus juga menyoroti bahwa tanggung jawab terbesar ada di tangan pelatih ketika pesilat gagal. “Jika pesilat gagal, yang pertama kali disalahkan biasanya adalah pelatih. Maka, menjadi pelatih berarti harus siap secara mental dan fisik,” ujarnya.
Meski demikian, Tulus mengakui bahwa kepuasan batin menjadi imbalan terbesar bagi seorang pelatih. “Semua tantangan itu akan terbayar ketika pesilat yang kita didik meraih prestasi tertinggi,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Dengan diadakannya Training of Trainer ini, Tulus berharap para pelatih PERSINAS ASAD dari berbagai daerah mendapatkan tambahan ilmu yang sedikit namun berkualitas. Ia juga mendorong para pelatih untuk terus serius dan termotivasi, sehingga kelak akan muncul pesilat-pesilat berprestasi dari seluruh penjuru negeri. “Teknik yang sudah diajarkan selama pelatihan ini bisa menjadi bekal untuk mencetak pesilat unggul di masa depan,” tutupnya.



