Serang (29/04) – Pengurus Besar (PB) PERSINAS ASAD menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) secara daring pada 29 April 2025. Rakornas diikuti oleh perwakilan dari 36 provinsi se-Indonesia dengan agenda utama menyamakan persepsi program kerja publikasi departemen promosi dan pemasaran.
Ketua PB PERSINAS ASAD, Prof. Dedid Cahya Hapyanto, mengatakan Rakornas ini menjadi momentum untuk menyelaraskan strategi komunikasi dan dokumentasi di seluruh tingkatan, mulai dari pusat hingga daerah.
“Organisasi kita terus berkembang, tantangan juga makin kompleks. Maka partisipasi aktif dari seluruh pengurus sangat diperlukan agar kita bisa merumuskan langkah strategis yang bermanfaat bagi seluruh warga PERSINAS ASAD,” ujarnya.
Prof. Dedid juga menekankan pentingnya memperkuat aspek dokumentasi. Menurutnya, pencak silat bukan sekadar teknik bertarung, tetapi sarana pembinaan karakter luhur dan spiritual yang perlu diwariskan.
“Pencak silat harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para pesilat. Baik secara karakter maupun spiritual. Ini adalah nilai utama yang terus kami tanamkan dan perlu disyiarkan,” tegasnya.
Sebagai bagian dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), PERSINAS ASAD disebut telah konsisten melahirkan pesilat berprestasi nasional hingga internasional. Namun, Dedid menegaskan prestasi bukan satu-satunya tujuan.
“Landasan utama kami tetap pembinaan karakter dan mental spiritual. Dan semua itu harus didokumentasikan dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PERSINAS ASAD Kota Cilegon, Teguh Pribadi, mengatakan Rakornas ini menjadi wadah untuk menciptakan sinergi antara program kerja tingkat kota hingga kecamatan.
“Kami ingin memastikan semua program bisa berjalan selaras. Mulai dari pusat, provinsi, kota hingga cabang,” ujar Teguh.
Ia menambahkan, Rakornas juga mendukung visi Indonesia Emas 2045 lewat pembinaan karakter para pesilat.
“Pembinaan karakter luhur adalah kunci untuk mencetak generasi unggul, baik di dunia olahraga maupun dalam kehidupan bermasyarakat,” pungkasnya.
Rakornas juga diisi sesi berbagi perkembangan antarprovinsi, termasuk pelaporan kegiatan dan program promosi di daerah. “Aspek budaya lokal juga penting dalam membentuk pesilat yang unggul dan berkualitas,” tutup Teguh.


