Dari Desa Kecil Lamongan ke Langit Nusantara, Jejak Pengabdian Marsma TNI (Purn) H. Sukur M.Si (Han)

admin
By admin
5 Min Read


Di balik sosok tegas dan sederhana Ketua Umum Pengurus Besar PERSINAS ASAD, Marsma TNI (Purn) H. Sukur M.Si (Han), tersimpan perjalanan hidup yang penuh perjuangan, pengabdian, dan keteladanan.

Lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Lamongan pada tahun 1962, Sukur kecil tumbuh dalam asuhan paman dan bibinya. Masa kecilnya dihabiskan di kampung halaman, menyelesaikan pendidikan SD hingga SMP, sebelum melanjutkan SMA di Kota Kediri.

Sejak muda, ia telah ditempa oleh keterbatasan dan kemandirian. Usai menamatkan sekolah, pada tahun 1984 ia mengabdikan diri sebagai mubaligh di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Dari mimbar dakwah, ia belajar tentang keikhlasan, keteguhan iman, dan tanggung jawab sosial.

Keinginan untuk mengabdi lebih luas membawa Sukur mendaftar Sekolah Penerbang Ikatan Dinas Pendek TNI Angkatan Udara. Meski belum lolos pada percobaan pertama, ia tidak menyerah. Ia kemudian diterima sebagai tamtama TNI AU dan menjalani pendidikan di Kalijati.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia lulus sebagai tamtama terbaik, lalu melanjutkan pendidikan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1985.

Karier militernya terus menanjak. Memasuki era 1990-an, ia dipercaya menjadi penerbang di Lanud Suryadarma, Subang, Jawa Barat. Selama 13 tahun, ia mengabdikan diri di dunia kedirgantaraan hingga meraih pangkat Letnan Kolonel.

Sebagai prajurit, ia pernah bertugas di Pulau Natuna, Lanud Ranai (sekarang Lanud Raden Sadjad) salah satu Pulau terluar wilayah NKRI. Di Ranai tersebut pernah menerima kunjungan Presiden (SBY) yang pertama sejak kemerdekaan RI tahun 1945.

Tak hanya itu, ia juga terlibat dalam operasi Gerakan Rakyat Sejahtera di Papua dan Aceh, menggunakan helikopter untuk mengangkut logistik dan membantu masyarakat di daerah konflik.

Ia juga mengikuti pendidikan pesawat tempur di Skadron 15 (full course). Berbagai jenis pesawat tempur pernah ia terbangkan, menjadikannya salah satu penerbang andal TNI AU. Salah satu jenis pesawat latih tempur Hawk MK53 pernah ia tunggangi sebagai siswa Sekbang Angkatan ke-41 di Lanud Iswahjudi Madiun.

Puncak kariernya ditutup dengan pengabdian di Dewan Ketahanan Nasional, hingga meraih pangkat Marsekal Pertama (Marsma) TNI sebelum pensiun pada tahun 2020.

Melawan Kodrat, Mengabdi di Angkasa, Bagi Sukur, menjadi penerbang adalah profesi yang penuh makna.

“Manusia dilahirkan untuk hidup di darat, tapi saya bekerja di angkasa,” ujarnya suatu ketika.

Menurutnya, dunia penerbangan menuntut ketenangan, kedisiplinan, dan kepercayaan penuh kepada Tuhan. Dalam situasi darurat, seorang pilot harus mampu mengendalikan diri dan mengambil keputusan tepat demi keselamatan.

“Bisa mendarat dengan selamat itu adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa,” tuturnya.

Kecintaannya pada pencak silat bermula sejak tahun 1977, saat ia masih remaja di Kediri. Kala itu, pencak silat sering dipertunjukkan di lingkungan pondok pesantren sebagai hiburan sekaligus pembinaan karakter.

Namun, kecintaannya semakin tumbuh setelah pensiun. Ia melihat kesamaan nilai antara dunia militer dan pencak silat: disiplin, mental baja, dan pembentukan karakter.

“Disiplin itu harus lahir dari diri sendiri, bukan karena diawasi,” tegasnya.

Dari Penerbang ke Pemimpin Perguruan, saat dipercaya memimpin PERSINAS ASAD sebagai Ketua Umum, Sukur mengaku sempat terkejut. Ia merasa tidak dibesarkan sebagai pendekar sejak kecil.

Namun, pengalaman manajerial selama puluhan tahun di militer menjadi bekal utama dalam memimpin organisasi.

Ia menyadari, tidak semua orang tertarik pada pencak silat. Inilah tantangan besar dalam memasyarakatkan seni bela diri tradisional sebagai sarana kesehatan, pertahanan diri, dan pelestarian budaya bangsa.

Baginya, pencak silat bukan sekadar olahraga, tetapi warisan luhur yang harus dijaga bersama.

Filosofi Hidup: Disiplin, Optimis, dan Huznudzon dalam memimpin, Sukur selalu menekankan pentingnya mendengar dan memahami orang lain.

“Untuk memahami orang lain, kita harus memahami diri sendiri,” ujarnya.

Ia percaya, setiap tantangan bisa dihadapi dengan kemauan, optimisme, dan prasangka baik (husnudzon). Prinsip inilah yang ia terapkan dalam membangun PERSINAS ASAD agar terus berkembang.

Di balik kesuksesannya, berdiri keluarga yang setia mendampingi. Ia menikah dengan perempuan asal Kediri yang ia temui di Yogyakarta. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga orang putri dan tiga cucu yang menjadi sumber kebahagiaan.

Pesan untuk Generasi Muda menutup kisah hidupnya, Sukur selalu menitipkan pesan kepada generasi muda Indonesia.

“Jangan pernah patah semangat. Bentuk jati diri menjadi pribadi yang disiplin dan taat aturan,” pesannya.

Ia mengingatkan pentingnya menjauhi larangan agama dan negara, serta menanamkan niat untuk bekerja lebih keras.

“Tidak ada orang yang tidak bisa. Kalau kita yakin, insyaallah pasti bisa,” tutupnya penuh keyakinan.



Source link

Share This Article