GOLOK “GUMA”
Parang/Golok “Guma” Adalah senjata tradisional khas Sulawesi Tengah, khususnya dari Suku Kaili yang mendiami lembah Palu dan sekitarnya. Guma memiliki panjang sekitar satu meter dan berfungsi sebagai simbol keperkasaan pria serta alat pertahanan diri. Mata bilahnya terbuat dari baja, seddangkan sarungnya dibuat dari kayu hitam atau tanduk, dihiasi dengan ukiran dan logam perak.
Guma tidak hanya digunakan sebagai senjata perang, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan simbolik yang tinggi. Pada gagangnya terdapat berbagai bentuk yang menunjukkan status social pemiliknya, seperti Balira (ekor burung), kadanjonga (kaki rusa), ndalendani, pewo o gagaranggo (kepala buaya), dan petondu (ekor udang). Mahkota dengan jejeran berlian (milik dari pemimpin/panglima dan tanda tingkatan kepemimpinannya), ada untaian rambut (merupakan rambut dari pimpinan lawan yang pernah dibunuh dengan parang/golok tersebut).
Selain itu Guma memliki peran penting dalam berbagai upacara adat, seperti:
| Nebulae | : | Sebaai pelengkap mahar pengantin wanita dari kalangan bangsawan |
| Noboti | : | Sebagai alat persembahan pengantin pria |
| Topeaju | : | Sebagai tanda tamu dipersilahkan memasuki lokasi upacara |
| Balia | : | Untuk memotong kalmbing dalam upacara |
| Mobau | : | Simbol tradisi melepas tanggung jawab dari seorang ayah kepada anak laki-lakinya |
| Upacara Kematian | : | Sebagai senjata pendamping mayit |
Pada masa penjajahan, produksi Guma sempat dihentikan oleh pemerintah colonial Belanda dan Jepang karena dianggap dapat membakar semangat perjuangan dan merugikan penjajah. Hingga kini, Guma tetpa menajdi bagian penting dari identitas budaya mayarakat Sulawesi Tengah dan sering dipamerkan dalam barbagai acara budaya dan sejarah.


