Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, Mandau bukanlah sekadar senjata tajam. Lebih dari itu, Mandau merupakan simbol budaya yang sarat nilai dan fungsi. Senjata tradisional ini memiliki dua peran utama, yakni sebagai alat untuk keperluan adat dan juga untuk kegiatan bertani.
Manda atau dikenal juga sebagai Mando, berasal dari Kalimantan dan telah digunakan sejak abad ke-17 hingga ke-18. Awalnya, senjata ini difungsikan sebagai alat tempur untuk menghadapi musuh.
Keistimewaan Mandau terletak pada ukiran khas di bilahnya, menjadikannya bukan hanya alat pertahanan, tetapi juga karya seni bernilai tinggi.
Mengutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Mandau dulunya digunakan dalam perang, pengayauan, serta sebagai pelengkap dalam tari-tarian adat. Mandau dikenal sebagai senjata yang ampuh untuk memenggal kepala musuh, mencerminkan fungsinya yang dahulu sangat strategis dalam pertahanan.
Pada masa lalu, Mandau selalu dibawa oleh laki-laki Dayak saat bepergian. Fungsi praktisnya sangat terasa di perjalanan, baik untuk menebas semak belukar maupun sebagai pelindung diri dari binatang buas. Mandau menjadi alat pertahanan yang siap digunakan saat bertemu bahaya, dan menjadi simbol kebanggaan saat menghadiri acara adat sebagai bagian dari busana resmi.
Hingga kini, mandau memiliki berbagai fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Dayak. Fungsi utamanya adalah sebagai alat kerja, terutama di ladang. Senjata tradisional ini digunakan untuk menebas rumput, memotong kayu, hingga membantu dalam pembangunan rumah, pembuatan perahu, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.


