Sumatera Utara (25/01) — Pengurus Provinsi (Pengprov) PERSINAS ASAD Sumatera Utara menggelar Pasanggiri Putri pada 25 Desember 2025 di Gedung Serba Guna Padepokan Daerah Medan Timur 1, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan.
Kegiatan ini menjadi wadah latihan, pembinaan, sekaligus evaluasi kemampuan pesilat putri dari berbagai padepokan desa di wilayah Sumatera Utara.
Pasanggiri diikuti oleh peserta dari delapan padepokan desa. Masing-masing padepokan mengirimkan 15 pesilat putri dari berbagai jenjang usia dan tingkat latihan sebagai bagian dari pembinaan berjenjang.
Acara tersebut dibuka langsung oleh Ketua Pengprov PERSINAS ASAD Sumatera Utara, Kompol (Purn) H. Suwito Widodo, SH, yang menandai dimulainya rangkaian pertandingan.
Panitia menyampaikan bahwa Pasanggiri Putri tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi lebih pada penguatan kemampuan perlindungan diri bagi perempuan.
“Wanita sering menjadi korban pelecehan. Bekal bela diri dapat meningkatkan kewaspadaan dan kepercayaan diri. Namun, kemampuan ini harus digunakan secara bertanggung jawab,” ujar salah satu pelatih.
Melalui kegiatan ini, hasil latihan rutin di padepokan desa dapat dievaluasi dan ditingkatkan, sehingga pembinaan pesilat putri terintegrasi di tingkat daerah.
Dalam pasanggiri tersebut, peserta menampilkan materi dasar pencak silat ASAD yang menekankan kedisiplinan, ketenangan, serta ketepatan teknik.
Para pelatih menegaskan bahwa kemampuan bela diri bukan untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai ikhtiar menjaga keselamatan diri dan orang lain.
Selain aspek fisik dan teknik, peserta juga mendapatkan pembinaan mental dan penguatan nilai spiritual, agar tetap mengedepankan akhlak, ketakwaan, dan pengendalian diri.
Ketua Pengprov PERSINAS ASAD Sumatera Utara, Kompol (Purn) H. Suwito Widodo, SH, mengatakan bahwa pencak silat ASAD harus menjadi sarana pembinaan karakter, bukan sekadar mengejar prestasi.
“Pencak silat ASAD mengajarkan keseimbangan antara kekuatan fisik, ketenangan jiwa, dan sikap berakhlak. Pesilat putri harus kuat, tetapi juga mampu mengendalikan diri,” ujarnya.
Pelaksanaan pasanggiri berlangsung dengan menjunjung tinggi sportivitas dan kebersamaan. Wasit dan juri yang bertugas berasal dari unsur berpengalaman dan memahami kaidah pencak silat ASAD.
Kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi antar padepokan desa, sekaligus ruang bertukar pengalaman terkait metode latihan dan pembinaan pesilat putri.
Panitia berharap Pasanggiri Putri dapat digelar secara rutin sebagai bagian dari program pembinaan berkelanjutan.
Latihan yang konsisten dinilai penting untuk menjaga kebugaran, meningkatkan penguasaan teknik, serta membentuk karakter disiplin.
Melalui kegiatan ini, PERSINAS ASAD Sumatera Utara optimistis mampu mencetak pesilat putri yang mandiri, percaya diri, dan berakhlak, sekaligus berkontribusi bagi perkembangan pencak silat di daerah.



