Kota Jambi (14/06) – Sebagai bagian dari implementasi kerja sama antara DPP LDII dan PB PERSINAS ASAD, puluhan pendekar sabuk merah dari wilayah timur Provinsi Jambi mendapat pembinaan mental dan spiritual, Sabtu (14/6/2025).
Kegiatan yang dipusatkan di Kota Jambi ini melibatkan pendekar dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Kota Jambi, dan Muaro Jambi. Tujuannya adalah memberikan bekal moral dan rohani kepada para pendekar yang kelak akan menjadi pengajar seni bela diri di daerah masing-masing.
Ketua Dewan Penasihat DPW LDII Provinsi Jambi, KH Nur Hamid Hadi, S.Pd., hadir langsung memberi arahan kepada para peserta. Dalam pesannya, ia menekankan bahwa seni bela diri tidak boleh lepas dari pondasi spiritual.
“Ilmu silat bukan sekadar gerakan fisik, tapi juga bisa menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah. Ini adalah bentuk ikhtiar menjaga diri dan lingkungan,” ujarnya di hadapan para pendekar sabuk merah.
Ia juga mengingatkan bahwa sebagai sabuk merah, tanggung jawab mereka lebih besar daripada warga ASAD biasa.
“Anda semua punya kelebihan, maka tanggung jawabnya juga lebih besar. Jangan salahgunakan ilmu ini,” tegasnya.
Selain membina para pendekar senior, KH Nur Hamid juga memberi pesan khusus kepada generasi muda PERSINAS ASAD. Menurutnya, seorang pesilat tak cukup hanya dengan teknik bagus, tapi juga harus berakhlak mulia, disiplin ibadah, dan rendah hati.
“Sehebat apa pun bela dirinya, kalau akhlaknya buruk, semua jadi sia-sia,” tambahnya.
Salah satu peserta, Abdulloh dari Sungai Jambat, Tanjabtim, mengaku mendapat motivasi besar dari kegiatan ini.
“Kami diingatkan bahwa silat bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga kekuatan batin. Kami siap mengamalkannya di masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bentuk apresiasi, para pendekar sabuk merah juga menerima sertifikat penghargaan atas dedikasi mereka dalam membina dan melestarikan seni bela diri.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara LDII dan PERSINAS ASAD dalam membentuk pesilat yang tak hanya tangguh secara fisik, tapi juga religius dan berjiwa sosial. Dengan pendekatan menyeluruh ini, diharapkan lahir pesilat-pesilat yang menjadi teladan, baik di gelanggang maupun di tengah masyarakat.


