Piso Gading adalah senjata tradisional berbentuk pisau atau pedang pendek yang berasal dari Suku Batak Toba, Sumatera Utara. Kata “Piso” dalam bahasa Batak berarti pisau atau pedang, sedangkan “Gading” berarti gading gajah, mengacu pada bahan utama pada gagang senjata ini. Piso Gading memiliki nilai simbolik yang sangat tinggi dalam budaya Batak dan bukan sekadar senjata fisik, melainkan juga lambang status sosial, kekuasaan, dan spiritualitas.
Senjata ini biasanya dimiliki oleh raja adat (raja bius), datu (dukun), atau tokoh adat dan digunakan dalam berbagai upacara adat, warisan turun-temurun, serta ritual magis.
Senjata satu ini bukanlah sembarang piso karena hanya boleh dimiliki raja. Berbentuk pedang dengan bilah tajam. Bentuknya piso gading sedikit melengkung dan biasanya merupakan senjata yang beracun. Racun yang terdapat dalam pedang tersebut dapat menyerang sistem syaraf otak sehingga mampu melemahkan otak dan juga dapat menyerang jantung.
Piso Gading memiliki struktur yang khas dan terdiri dari beberapa bagian:
Bilahan (Mata Pisau)
Terbuat dari baja atau besi tempa.
Berbentuk lurus atau sedikit melengkung, bermata tunggal, panjang sekitar 20–40 cm.
Bagian bilah sering kali dihias dengan ukiran atau garis-garis (pamor) yang dibuat secara manual.
Dalam beberapa kasus, bilah diberi minyak khas atau bahan magis oleh datu untuk tujuan spiritual.
Hulu (Gagang / Pegangan)
Terbuat dari gading gajah, yang menjadi asal nama senjata ini (gading).
Dibentuk dengan ukiran khas Batak, seperti motif gorga (ornamen etnik).
Gagang bisa dihias dengan benang emas, logam, atau serat-serat alam lainnya.
Sarung (Warangka / Selubung)
Terbuat dari kayu keras seperti kayu waru atau kayu jior.
Sering dihias dengan ukiran dan dibungkus kain songket atau ulos sebagai pelindung dan hiasan.
Fungsi dan Kegunaan
Fungsi Tradisional dan Simbolik
Simbol Kekuasaan dan Status: Hanya dimiliki oleh pemimpin adat, datu, atau tokoh berpengaruh dalam masyarakat Batak.
Warisan Pusaka: Piso Gading diwariskan secara turun-temurun dan dianggap sebagai benda keramat keluarga (pusaka).
Simbol Etika dan Tanggung Jawab: Membawa Piso Gading menunjukkan seseorang telah siap memegang tanggung jawab besar dalam adat dan masyarakat.
b. Fungsi Ritual dan Spiritualitas
Digunakan dalam upacara adat seperti mangokal holi (pindah tulang), pesta adat, dan upacara pengobatan tradisional.
Di tangan datu, Piso Gading dianggap memiliki kekuatan mistik, terutama jika diberi “pagar” atau dirituali dengan pustaha (kitab sihir Batak).
Dipercaya dapat mengusir roh jahat, menangkal bala, dan sebagai media penghubung antara manusia dan roh leluhur.
Nilai Filosofis dan Budaya
Dalam pandangan kosmologi Batak Toba:
Tiga Bagian Piso Gading mencerminkan tiga lapisan dunia dalam kosmologi Batak:
Banua Ginjang (dunia atas – dunia roh/dewa),
Banua Tonga (dunia tengah – dunia manusia),
Banua Toru (dunia bawah – dunia arwah dan kekuatan magis).
Gading dianggap bahan suci, melambangkan kemurnian, kekuatan, dan kemakmuran.
Piso Gading juga menjadi lambang kesinambungan antar generasi, karena diwariskan secara turun-temurun.
Teknik Pembuatan
Dibuat oleh pandai besi tradisional Batak yang disebut pande besi, sering kali bekerja sama dengan datu untuk membuat senjata ini memiliki aspek magis.
Proses tempa dilakukan dengan alat sederhana: tungku arang, palu, dan alat pengikir.
Gagang dari gading dipahat secara halus dengan teknik ukir manual.
Proses akhir melibatkan pemberian mantera atau pengisian kekuatan spiritual oleh datu.


