Tombak Trisula merupakan salah satu senjata tradisional Palembang Sumatera Selatan yang sarat akan nilai budaya dan spiritual. Senjata ini memiliki bentuk yang unik dan mencolok, dengan mata tombak yang bercabang tiga menyerupai garpu besar, sehingga disebut trisula. Dari bahasa Sanskerta yang berarti tiga tombak atau tiga ujung. Dalam budaya lokal, senjata tradisional ini bukan hanya sekadar alat tempur, tetapi juga simbol kekuasaan, perlindungan, serta kekuatan gaib yang dipercaya mampu menolak bala dan memberikan keberanian kepada pemiliknya.
Tombak Trisula kerap kali digunakan dalam upacara adat atau ritual spiritual, serta diturunkan secara turun-temurun oleh keluarga bangsawan atau tokoh masyarakat yang memiliki kedudukan penting di lingkungan sosialnya.
Struktur Fisik (Morfologi)
Tombak Trisula Palembang memiliki karakteristik unik dibandingkan senjata tradisional lainnya:
- Ujung (Mata Tombak): Berbentuk tiga cabang (trisula), satu cabang utama di tengah (lurus dan tajam), dan dua cabang samping yang melengkung keluar seperti garpu. Ketiga mata ini menunjang kemampuan untuk menyerang sekaligus menangkis senjata lawan.
- Bahan Mata: Terbuat dari besi tempa atau baja tradisional, yang ditempa oleh pandai besi lokal dengan teknik tradisional.
- Tangkai (Gagang): Biasanya terbuat dari kayu keras seperti kayu nangka, kayu randu, atau kayu ulin, dengan panjang sekitar 150–200 cm. Kadang diberi hiasan ukiran khas Palembang dengan motif flora atau kaligrafi Islam.
- Sarung (Jika Ada): Beberapa versi memiliki sarung dari kayu atau kain songket, tetapi karena bentuknya bercabang, tidak semua tombak trisula disarungi.
Fungsi dan Kegunaan
- Fungsi Militer dan Pertahanan
Digunakan oleh prajurit Kesultanan Palembang dalam pertempuran. Bentuk cabangnya memungkinkan menjebak senjata lawan, terutama pedang atau tombak lurus.
- Fungsi Upacara dan Simbolik
Digunakan dalam upacara adat atau kirab budaya sebagai simbol kekuasaan, kekuatan, dan penjaga nilai adat. Di masa lalu, trisula menjadi lambang pengawal sultan dan digunakan saat prosesi kerajaan.
- Fungsi Spiritualitas dan Mistis
Di beberapa kalangan masyarakat tradisional, trisula dianggap memiliki kekuatan magis, terutama jika dibuat oleh empu atau pandai besi spiritualis. Terkadang digunakan dalam ritual tolak bala atau penjagaan situs keramat.
Nilai Budaya dan Filosofis
Simbol Kekuatan dan Kewibawaan:
- Bentuk tiga cabang melambangkan kekuatan dalam tiga dimensi: fisik, spiritual, dan sosial.
- Warisan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang: Trisula menjadi pengingat kejayaan masa lalu, terutama kekuatan militer dan pengaruh spiritual kerajaan di Sumatera Selatan.
- Filosofi Kehidupan: Dalam beberapa penafsiran, tiga cabang trisula mencerminkan tiga aspek kehidupan: lahir, batin, dan roh, atau alam atas, alam tengah, dan alam bawah.
Teknik Pembuatan
Tombak Trisula dibuat oleh pandai besi tradisional dengan metode tempa:
- Besi dibakar dalam suhu tinggi (menggunakan arang kayu atau batu bara lokal).
- Ditempa secara manual membentuk cabang tiga.
- Dihaluskan dan diasah.
- Proses finishing dilakukan dengan pengukiran, penghalusan gagang, dan kadang-kadang pelapisan minyak untuk menjaga keawetan.
Pembuatan tombak trisula memerlukan keterampilan tinggi, karena pembuatan tiga cabang simetris adalah proses yang kompleks dan presisi.


